Tangisku inikah yang kau inginkan
Kuberikan air mata
agar suara hati tercurah, walau engkau telah mendengar
perlukah ku perlihatkan air mata, agar tampak cintaku
tapi engkau menyukai rasa yang mengalir dalam kalbu
air mata ini ucapku
air mata ini rasaku
air mata ini pedihku
jika kata dan hati tak lagi mampu mewakili
Hari ini tuhan membangunkan Aku kembali mempertemukan Kita lagi,walau Kita berpikir seakan hari ini sama dengan kemarin dan besok. namun siapakah yang di ingat pertama kali oleh diri ketika kelopak mata terbuka, Cintanya?
Rabu, 03 Maret 2010
Senin, 01 Maret 2010
AKU CINTAKU
cinta bukan detak jantung yang berdegup
bukan cahaya yang mengalir jadi desir darah
cinta senantiasa ada
mengikuti rasa
tapi cinta bukan rasa
cinta sesungguhnya AKU
cinta selalu menatap
mendengar dan berucap
cinta pada diamku
yang akan kembali menjadi cinta
pada samudera keabadian
bukan cahaya yang mengalir jadi desir darah
cinta senantiasa ada
mengikuti rasa
tapi cinta bukan rasa
cinta sesungguhnya AKU
cinta selalu menatap
mendengar dan berucap
cinta pada diamku
yang akan kembali menjadi cinta
pada samudera keabadian
Malam itu
ini bukan malam pertama
kusujuti jiwa
kidungkan persembahan
memasuki goa-goa pelita
mengembara melintasi debu-debu cinta
Seterbit matahari telah terlewati
walau ujung cahaya masih jauh
aku mendengarmu
aku mendengar
dari cakrawala
dan merasakan desah lembut suaramu
hantarkan pada tiap sisi langit
menuju dunia jiwa-jiwa
ketika menunggu pohon kehidupan
gugurkan daun-daun ketetapan
kusujuti jiwa
kidungkan persembahan
memasuki goa-goa pelita
mengembara melintasi debu-debu cinta
Seterbit matahari telah terlewati
walau ujung cahaya masih jauh
aku mendengarmu
aku mendengar
dari cakrawala
dan merasakan desah lembut suaramu
hantarkan pada tiap sisi langit
menuju dunia jiwa-jiwa
ketika menunggu pohon kehidupan
gugurkan daun-daun ketetapan
BISAKAH AKU MENYUKAI
Sesantun hati, sesantun ungkapku
Setelah bibir usai berucap
Siapakah suara itu?
Inginku bukan engkau
Tapi aku
Atau
Kita,?
Bersama,
Tidak sendiri
Aku hanya mendengar
Menjadi boneka
Yang merasa memiliki
Namun
Sendiri
Atau engkau
Hanya membuat teka-teki
Agar mengerti siapa aku dan aku
Lalu jika semua kupahami
Sisakan untukku
Bintang yang tak jatuh
Jadi Rahasiaku!
Tuhan.
Aku hanya berpura-pura mengerti
Dan telah bertemu,dengan aku
Tapi kenapa harus dengan aku
Bukan engkau,TUHAN
PRASANGKAKU
Aku telah menjawab rahasiamu
Tapi kian memblukar dihati
Jiwa telah kehilangan kejujuran
Akan arti percakapan engkau dan kalbu
Lalu dimanakah harus kutunggu
Seribu bisu yang berbicara.
Setelah bibir usai berucap
Siapakah suara itu?
Inginku bukan engkau

Tapi aku
Atau
Kita,?
Bersama,
Tidak sendiri
Aku hanya mendengar
Menjadi boneka
Yang merasa memiliki
Namun
Sendiri
Atau engkau
Hanya membuat teka-teki
Agar mengerti siapa aku dan aku
Lalu jika semua kupahami
Sisakan untukku
Bintang yang tak jatuh
Jadi Rahasiaku!
Tuhan.
Aku hanya berpura-pura mengerti
Dan telah bertemu,dengan aku
Tapi kenapa harus dengan aku
Bukan engkau,TUHAN
PRASANGKAKU
Aku telah menjawab rahasiamu
Tapi kian memblukar dihati
Jiwa telah kehilangan kejujuran
Akan arti percakapan engkau dan kalbu
Lalu dimanakah harus kutunggu
Seribu bisu yang berbicara.
Cahaya Infiltrasi
Rembulan perak
Membelah rimba, menyingkap pelita
Rembulan perak
Cahayakan hati, tebarkan wangi
Tapi,
Aku bukan keseribu pemiliknya
Rembulan perak, penyanggah jiwa
Membelah rimba, menyingkap pelita
Rembulan perak
Cahayakan hati, tebarkan wangi
Tapi,
Aku bukan keseribu pemiliknya
Rembulan perak, penyanggah jiwa
BAHTERA NUH
Telah kularungkan bahtera Nuh
Agar ada yang tersisa
Sejumlah keyakinan
Kularungkan perahu-perahu Nuh
Dengan ingatan, pada samudra kerinduan
Lalu siapakah? Berlayar arungi keabadian
Agar ada yang tersisa
Sejumlah keyakinan
Kularungkan perahu-perahu Nuh
Dengan ingatan, pada samudra kerinduan
Lalu siapakah? Berlayar arungi keabadian
BONEKA KAYU TAK BERUKIR
Aku mainan-mainan itu
Boneka kayu tak berukir
Lalu diselimuti darah
Aku boneka keseribu
Yang mengikuti kisar angin
Terhempas, keras, lepas
Kenapa mesti aku ?
Ikuti gelombang asmara ini
Boneka kayu tak berukir
Lalu diselimuti darah
Aku boneka keseribu
Yang mengikuti kisar angin
Terhempas, keras, lepas
Kenapa mesti aku ?
Ikuti gelombang asmara ini
BERBISIK
Telah kupelankan suara
Agar tak tedengar, berbisik
Tapi bukan aku suka kesunyian
Angin
Juga membuat rahasia
Dengar desir
Pada rongga
Aku sudah hembuskan berjuta kali
Dan rinduku kian menjadi
Lalu dimanakah rahasia ini
Agar tak tedengar, berbisik
Tapi bukan aku suka kesunyian
Angin
Juga membuat rahasia
Dengar desir
Pada rongga
Aku sudah hembuskan berjuta kali
Dan rinduku kian menjadi
Lalu dimanakah rahasia ini
SUATU KALI KETIKA MENDUA
Suatu kali, diperbatasan
Jangan harap cinta semusim
Kuburku telah lama kugali
Suatu kali, makilah
Aku tengan mendua
Berupaya Satu
Suatu kali, biarlah sendiri
Inginku mati dunia
Merajam raga
Suatu kali, nyaman dirasa
Kupinta waktu tak terbatas
Suatu kali, dicerita
Aku adalah engkau dan kembali aku
Jangan harap cinta semusim
Kuburku telah lama kugali
Suatu kali, makilah
Aku tengan mendua
Berupaya Satu
Suatu kali, biarlah sendiri
Inginku mati dunia
Merajam raga
Suatu kali, nyaman dirasa
Kupinta waktu tak terbatas
Suatu kali, dicerita
Aku adalah engkau dan kembali aku
Minggu, 28 Februari 2010
satu ayat saja
haruskah
kutulis dengan getah zaitun
agar dapat
terbaca
satu ayat saja
Satu saja,Bukan untuk dua
Namun aku telah mendua
Lalu sunyi
akupun sendiri
apakah dari tuhan yang akan kurindukan,asma,ciptaannya
atau hidup yang tak mati
kutulis dengan getah zaitun
agar dapat
terbaca
satu ayat saja
Satu saja,Bukan untuk dua
Namun aku telah mendua
Lalu sunyi
akupun sendiri
apakah dari tuhan yang akan kurindukan,asma,ciptaannya
atau hidup yang tak mati
Langganan:
Postingan (Atom)